| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
“Akulah keluh,aku ingin naik ke langit angkasa…”
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Kita membangun dakwah bukan sesuai apa yang kita persepsikan,
tetapi sebagaimana yang Allah ’Azza wa Jalla kehendaki
Namun, apakah kemudian kita berhenti pada titik kepasrahan atas kekalahan?
Bukan itu pengertiannya
Ini tentang bagaimana kita menerjemahkan buah dari perjuangan dakwah ini
Jika buahnya adalah kekalahan
Maka, perlulah kiranya kita tengok ke dalamnya
Langkah gaya apa yang sebaiknya kita ambil,
untuk menemukan kemenangan puncak melalui buah kekalahan itu
Pun tak selamanya ide-ide cerdas yang diusung oleh para da’i brilliant
membuahkan kemenangan
Ini adalah terjemah atas perjuangan
Bisa jadi, konsep sederhana dari da’i yang biasa-biasa saja…
akan mampu mendobrak pemenangan da’wah
Ini bisa jadi
Namun demikian, tidak berarti kemudian kita berdiri hanya pada satu
di antara dua pemilik ide tersebut
Setiap gaya langkah memiliki segmentasi masing-masing
Dan ini merupakan derifasi dari telaah kondisi ummat yang sedang kita garap
Ya…
Kita sedang menanti ide-ide baru
Dengan gaya langkah yang barangkali berbeda
Untuk kita ledakkan di ranahnya masing-masing
Sebagaimana kehendak Penentu Kesudahan
Bukan persepsi perorangan.
Ternyata, jalan itu terlalu jauh…
“Wajaahidu fillaahi haqqo jihaadih…” [QS. Al-Hajj(22) : 78 ]

Suatu hari Nabi Sulaiman bertanya kepada seekor semut
“Berapa bagian rizkimu dalam setiap tahun?”
Semut menjawab, “Sebutir gandum.”
Lalu ditaruhlah si semut itu di dalam sebuah botol
dan dibekali sebutir gandum,
kemudian ditutup rapat-rapat
Setahun kemudian dibukalah botol itu
Ternyata hanya separuh dari sebutir gandum yang telah habis dimakan oleh si semut
Nabi Sulaiman bertanya kepada semut
“Kenapa engkau tinggalkan separuh gandum ini tidak termakan?”
Si semut menjawab, “Kalau tawakalku kepada Allah, aku akan habiskan sebutir gandum ini, karena aku mengetahui bahwa Allah tidak akan melupakan aku di dunia ini. Tetapi karena aku bergantung kepadamu, maka aku tinggalkan separuh gandumku sebagai persiapan untuk setahun, kalau-kalau engkau melupakanku dalam tahun berikutnya.”
__fff __
Berkarakter…
Akankah kita…?
Apa kabar demokrasi?
Masihkah mendemonstrasikan kegilaan?
Kegilaan yang mengatasnamakan kehendak rakyat
Kegilaan yang memikat
Pada berduyun-duyun melombakan diri
“Ijinkan aku mewakilimu…”
“Monggo”
“Sepuluh ribu per satu”
“Keluarga saya ada 5 orang”
“Lima puluh ribu”
Ditambah senyum gilamu
…
Tunggu
Lihatlah dengan seksama
Ada mereka yang melayani dengan cucur peluh
Juangnya tanpa mengeluh
Kerjanya bersih
Putih
Merekalah anak pertiwi
Dengan bangga mengumandangkan “Padamu Negeri”
Sejenak meminjam baju demokrasi
Namun jiwa Rabbani terpatri!
Aku dengar…
Serpihan angin yang menyayat lembut
Bukan sekadar cita rasa angin semusim
Ia lebih layak disebut sebagai sentuhan Rabbani yang menyentuh sebagian hamba yang rajin mendamba
Rabbi, ingatkan…Rabbi, ingatkan…
Maka, tiap satuan waktu ialah ingatan
Bukan atas permintaan
Namun selaksa karunia yang tak lekang oleh zaman
Bagi jiwa-jiwa yang bersemayam dalam kepekaan
Peka cinta
Peka kasih
Peka sayang
Peka rindu
Kepekaan…
Terbitlah!
![]()
Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.
Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : “Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?”
Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.
Si ayah menjawab : “Sebab aku lelaki.”
Anak perempuan itu berkata sendirian : “Aku tidak mengerti”.
Dengan kerut-kening karena jawaban ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan.
Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki.” Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan.
Karena perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : “Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”
Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban si ibu.
Si anak itupun kemudian semakin besar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih mencari-cari jawaban, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok? Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah- olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawaban rasa kebingungannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan lelaki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung.”
“Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting- tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. ”
“Ku berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya” .
“Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih- payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya” .
“Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”
“Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya. ”
“Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya. ”
“Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga / penyokong, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”
Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.
“Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah.”
Cerita ini adalah tentang empat orang bernama Semua Orang, Seseorang, Siapa Saja, dan Tak Seorang pun.
Ada tugas penting untuk dikerjakan dan Semua Orang diminta melakukannya. Semua Orang yakin bahwa seseorang akan melakukannya. Siapa Saja bisa melakukannya, tetapi Tak Seorang pun yang melakukannya. Seseorang menjadi marah tentang itu, sebab ini tugas Semua Orang.
Semua Orang menganggap bahwa Siapa Saja dapat melakukannya, tetapi Tak Seorang pun yang menyadari bahwa Semua Orang tidak akan melakukannya. Akhirnya Semua Orang menyalahkan Seseorang ketika Tak Seorang pun melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Siapa Saja.
Nah…lo, Siapa yg seharusnya bertanggung jawab?
Intro:
Cerita ini adalah tentang empat orang bernama Semua Orang (Jama’ah), Seseorang (Qiyadah), Siapa Saja (Jundiyah), dan Tak Seorang pun (orang eksternal/objek dakwah).
Ada tugas penting (DAKWAH) untuk dikerjakan dan Jama’ah diminta melakukannya. Jama’ah yakin bahwa Qiyadah akan melakukannya. Jundiyah bisa melakukannya, tetapi orang eksternal yang melakukannya. Qiyadah menjadi marah tentang itu, sebab ini tugas Jama’ah.
Jama’ah menganggap bahwa Jundiyah dapat melakukannya, tetapi orang eksternal yang menyadari bahwa Jama’ah tidak akan melakukannya. Akhirnya Jama’ah menyalahkan Qiyadah ketika orang eksternal melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Jundiyah…
Fenomena menganggap ‘yang lain pasti melakukan’ disusul tindakan menghindar dari tugas tersebut, dan menganggap pasti beres… adalah bak cerita raja dan sesendok madu, yang berakhir kepada ‘pengkhianatan massal’.
============ ========= ========= ========= ========= ========= =========
Ikhwati fillah,
Di kampus dunia kita, telah ditanamkan potensi-potensi peradaban oleh para pendahulu kita. Potensi itu ada dalam diri saya, kita, dia, mereka dan antum semuanya. Terkadang kita tidak menyadari akan potensi itu. Bahkan *sarana untuk menumbuhkan *potensi* (amanah) itu sendiri, sering kita hindari. Kita cukup cerdas untuk mencari justifikasi, kita ingin fokus belajar, lulus cepat-cepat, merasa diri tidak punya kemampuan, dan alasan lainnya. Termasuk dalam pilihan itu untuk diam tak bergerak.
“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak begitu jauh, pastilah mereka mengikutimu; tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka…..” [9:42]
Amanah yang ada itu semua juga tidak bisa dipaksakan oleh keputusan jama’ah, tentu sang qiyadah/syura’ akan lebih mempertimbangkan kenyamanan dan rencana kedepan sang jundi serta tidak mungkin secuil pun terlintas untuk mencelakakan jundi. Inilah kemudian *tsiqah *yang harusnya kita bangun kepada para qiyadah kita. Dan tentunya sebagai sang qiyadah telah mempertimbangan matang-matang rencana kerja untuk mencapai targetan da’wah kedepan.
Saat ini jundi-jundi mulai cerdas untuk memilih dan sekali lagi merasa memiliki banyak justifikasi. Tapi dari sekian banyak jundi-jundi itu ternyata masih tersisa yang sedikit yang berbeda. Seperti kisah teman seperjuangan saya, sebut saja fulan. Fulan dengan segala keterbatasan dan himpitannya ia siap menjalankan amanah karena itu merupakan keputusan jama’ah, tentunya melalui syura’. Walaupun itu cukup berat bagi dia.
Kelulusannya kemungkinan besar tertunda karena amanah yang siap ia kawal itu. Andai butuh untuk memfokuskan kuliah, justru ia yang paling butuh. Namun keputusan berkata lain, justru ialah yang paling dianggap bisa untuk mengemban amanah ini. Akhirnya si fulan atas nama da’wah ia rela berjuang, untuk menjalankan kaidah syar’i yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, terlebih sebagai aktivis da’wah.
Pun banyak sekali tantangan yang ia lalui diantaranya permasalahan yang tiap tahun terulang dalam sebuah ja’maah, yakni *’amal jama’i* itu sendiri. Sehingga setelah mendapatkan suatu amanah, banyak kemudian yang cukup percaya dengan kemampuannya, lalu yang lain merasa tidak dibutuhkan lagi dan menghindar. Tinggallah si fulan dengan segala keterbatasannya berusaha mengawal dan merealisasikan keputusan syura’ walaupun yang lain tidak peduli.
Terlepas dari itu semua, ingatkah antum semua dengan kisah ‘Amr bin Jamuh yang mengadu kepada Rasulullah SAW, ‘Amr berkata “Sesungguhnya anak-anakku hendak menghalang-halangik u untuk berperang bersamamu. Padahal demi Allah sesungguhnya aku ingin menginjakkan kakiku yang pincang ini di surga..!!”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan udzur kepadamu, maka tiada kewajiban untuk berjihad (perang) atasmu!”
Namun apakah ‘Amr dengan udzur itu ia berdiam diri? Justru ia tetap berangkat berjihad bersama Rasulullah SAW dan terbunuh sebagai syuhada di Perang Uhud. Rahimakumullahu yaa ‘Amr.
Ikhwatii,
Antumlah yang seharusnya berjiwa ‘Amr bin Jamuh. Jadilah antum bagai prajurit-prajurit yang berada di barak-barak militer, yang senantiasa bersiap siaga, berjaga-jaga, dan ketika ada perintah sang komandan maka setiap orang berlomba-lomba untuk melaksanakannya.
Kalau antum pernah mendengar, adanya kita di kampus cukup memberikan sebagian waktu kecil kita untuk pengelolaan kesempatan amal ini dan kita seolah-olah paling tahu apa yang dibutuhkan kampus saat ini. Sehingga ketika kita duduk bersama dalam jama’ah da’wah ini, justru kepentingan pribadi yang kita kedepankan. H arusnya ‘b ab ini’ sudah kita tutup rapat-rapat. Saat ini kita tengah berada dalam tahap ekspansi da’wah. Tiap da’i harus berani mengungkapkan apa yang menjadi pemikiran dan keyakinannya kepada siapapun, walau orang lain tidak suka, membenci dan bahkan mencela kita.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan…… “ [2:214]
Ikhwatifillah,
Tugas kita adalah menyampaikan risalah kebenaran ini, melaksanakan keputusan jama’ah. Dan hidayah, hanyalah Allah yang menentukan. Lalu tahukah ikhwati apa yang menjadi balasan bagi kita, ketika kita menjadi perantara orang lain untuk mendapatkan petunjuk-NYA? ? Adalah surga yang didalamnya berisi seluruh kenikmatan melebihi dunia seisinya.